Menunggu Giliran
Kamis pagi.
Saat mengawasi kesungguhan anak dalam menghafal tanpa Muhafidzah di libur pagi, datang seorang ibu dengan mata sembab.
"Saya mau jemput putri saya ustadzah, abahnya meninggal." katanya dengan nada bergetar.
"Innalillahi wainna ilaihi Roojiuun, Sudah izin Ms Titin ummi..?"
"Belum ustadzah, saya bingung harus ngapain."
"sebentar yaa ummi, saya coba izinkan dan panggil anaknya."
Izin sudah diberikan, sang anak pun sudah bersiap untuk pulang. Ibu itu memeluk menguatkan anaknya yang baru kehilangan kakeknya, sembari menguatkan diri sendiri yang ditinggal ayah tercintanya. Air mata yang coba ia tahan. Keluar juga. Meskipun tak banyak. Tapi raut sedihnya sungguh membuat yang menyaksikan iba padanya.
"Maritza dimana ya..? Ayahnya meninggal, mau dijemput juga " kata Ms Titin.
Ya Allah, ya rabbi.. Innalillahi wainna ilaihi Roojiuun...
"Mau bantu saya carikan ms..?"
"udah dikasih tau sih anaknya kalau mau dijemput. Cuma belum dikasi tau kalau ayahnya udah gaada."
Ahh sungguh tak bisa dibayangkan betapa diaa merasa ganjil tiba-tiba dijemput tanpa diberi tau kenapa dan ada apa. Mungkin hatinya senantiasa berprasangka baik, semoga kabar baik..semoga hal yang menyenangkan. Tapi bukankah memang aneh dan tak biasa dijemput oleh seseorang dengan senyum yang dibuat-buat. Dia pun bingung mungkin harus bagaimana. Dan gelisah Kapan waktu yang tepat untuk menyampaikan kabar duka.
Dan tak kuasa pulaa membayangkan bagaimana sesak didadanya saat sampai pagar rumah banyak sekali tetangga mengunjungi rumahnya di pagi buta, dengan wajah sedih dan tak biasa, lalu disambut anggota keluarga yang langsung memeluk dan menguatkannya, menyaksikan mamanya yang menangis tersedu didepan sosok yang terbujur kaku
Mungkin dalam hatinya masih bertanya, ini siapaa.. Ini siapa.. Sambil mencari cari sosok yang sangat ia cintai, berharap ia ada membersamai.
Sampai akhirnya ia menyadari bahwa ayahnya sudah tiada. Secepat itukah..?
Ahhh sesak sekali membayangkannya. Tiba-tiba ingat ummi abi di kampung yang fisiknya mulai lemah.
Jangan kau cabut dulu nyawa ummi abi ku ya allah.. Aku masih ingin berbakti pada keduanya. Memeluknya, membanggakannya.
Tapi Kematian itu suatu kepastian. Semua pasti mengalaminya. Cabutlah nyawa kami dalam keadaan Husnul Khotimah, ya Allah.
Innalillahi wainna ilaihi Roojiuun.. Turut berduka cita atas wafatnya ayah Maritza dan Kakek Athiyya
21 Juli 2022
Komentar
Posting Komentar