Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2022

Menahan

Akhirnya setelah beberapa hari jadi perawat untuk santri-santri hebat, Allah memberikan juga giliran menahan pusingnya kepala, panasnya demam, dan gatalnya tenggorokan. Jujur saja, sakit ini adalah sakit yang ku khawatirkan sebelumnya. Keadaan sungguh berubah, saat menjadi santri sakit adalahhal yang menyenangkan. Bahkan Pura-pura sakit juga pernah, untuk tidak mengikuti kegiatan. Berbeda dengan sekarang, memaksakan ikut kegiatan meskipun sakit benar-benar berat dirasakan. Kecuali setelah benar-benar sulit menahan, akhirnya menyerah dan izin menjadi pilihan. Sekali izin, ternyata aku memang harus memaksakan untuk masuk lagi.  Yang penting, jangan sampai ummi tau.  Semoga besok membaik, biar bisa nganter ke dufan. Biar bisa nerima setoran anak2 kelas 9 lagi.  Ada tanggung jawab yang harus dituntaskan.  Apalagi minggu ini lagi UAS

Rantai Nyeri

Sabtu, 23 Juli 2022 Namanya hidup bersama, sakit satu merambat ke semua.  3 Hari terakhir, UKS layaknya wisma atlet di puncak covid-19. Ranjang yang tersedia tidak cukup menampung pasien yang setiap hari terus bertambah. Kasur darurat satu demi satu diletakan di teras uks. Sakit yang dirasa bukan sekedar drama belaka, suhu tubuh anak² jelas diluar batas wajar orang sehat. Sesekali tangis murid baru memperkeruh suasana. Ah lucu sekali mereka.  "Assalamualaikum.. Ummi, Mau mengabarkan, ananda Sedang kurang sehat. Kami sudah bawa ke UKS, sudah diupayakan diberi obat.. kemarin tidak sekolah, Kami intruksikan untuk istirahat.. Hari ini masih belum sehat jadi kami sarankan utk dibawa berobat.. 🙏Terimakasih " Isi pesan kami pada orangtua yang anaknya tidak bisa diselamatkan dengan paracetamol, suplemen dan makanan dapur pesantren yang seadanya.  Beberapa merespon baik dengan berterimakasih sudah dikabari dan sudah bantu merawat serta sudah mau direpotkan. Respon lain dengan mel...

Menunggu Giliran

Kamis pagi. Saat mengawasi kesungguhan anak dalam menghafal tanpa Muhafidzah di libur pagi, datang seorang ibu dengan mata sembab.  "Saya mau jemput putri saya ustadzah, abahnya meninggal." katanya dengan nada bergetar.  "Innalillahi wainna ilaihi Roojiuun, Sudah izin Ms Titin ummi..?" "Belum ustadzah, saya bingung harus ngapain." "sebentar yaa ummi, saya coba izinkan dan panggil anaknya." Izin sudah diberikan, sang anak pun sudah bersiap untuk pulang. Ibu itu memeluk menguatkan anaknya yang baru kehilangan kakeknya, sembari menguatkan diri sendiri yang ditinggal ayah tercintanya. Air mata yang coba ia tahan. Keluar juga. Meskipun tak banyak. Tapi raut sedihnya sungguh membuat yang menyaksikan iba padanya.  "Maritza dimana ya..? Ayahnya meninggal, mau dijemput juga " kata Ms Titin.  Ya Allah, ya rabbi.. Innalillahi wainna ilaihi Roojiuun...  "Mau bantu saya carikan ms..?"  "udah dikasih tau sih anaknya kalau mau dijemput....