Rantai Nyeri

Sabtu, 23 Juli 2022

Namanya hidup bersama, sakit satu merambat ke semua. 

3 Hari terakhir, UKS layaknya wisma atlet di puncak covid-19. Ranjang yang tersedia tidak cukup menampung pasien yang setiap hari terus bertambah. Kasur darurat satu demi satu diletakan di teras uks.

Sakit yang dirasa bukan sekedar drama belaka, suhu tubuh anak² jelas diluar batas wajar orang sehat. Sesekali tangis murid baru memperkeruh suasana. Ah lucu sekali mereka. 

"Assalamualaikum.. Ummi, Mau mengabarkan, ananda Sedang kurang sehat. Kami sudah bawa ke UKS, sudah diupayakan diberi obat.. kemarin tidak sekolah, Kami intruksikan untuk istirahat.. Hari ini masih belum sehat jadi kami sarankan utk dibawa berobat.. 🙏Terimakasih "

Isi pesan kami pada orangtua yang anaknya tidak bisa diselamatkan dengan paracetamol, suplemen dan makanan dapur pesantren yang seadanya. 

Beberapa merespon baik dengan berterimakasih sudah dikabari dan sudah bantu merawat serta sudah mau direpotkan. Respon lain dengan melontarkan beberapa pertanyaan 

"Sejauh mana penanganan pesantren thd anak yang sakit..?" 

"obat apa yang diberikan..? Obat warung atau dari apotek..?" Dan pertanyaan² lainnya. 

Ada yang terus ngeyel tidak mau membawa anaknya berobat dan istirahat di rumah. Padahal kondisinya tidak memungkinkan untuk bertahan ditengah keterbatasan pelayanan pesantren. 

Sisanya hanya kepo sebenarnya ada apa dan kenapa. Kobisaa anak² kompak sakitnya. 10 orang pulang untuk istirahat dan diberikan penanganan lanjutan dirumah, 10 pasien baru masuk UKS dengan gejala yang hampir sama. 

Mungkin bayang-bayang covid yang katanya sedang naik lagi menjadi kekhawatiran tambahan setiap orangtua. Pun dengan kami SDM Pesantren. Tapi bagaimanapun, yang sakit adalah mereka yang harus diberikan penanganan. Tak peduli sakit apa yang diderita. 

Namun, Begitulah pemikiran berbeda kepala. Tak apa. Wajar. Intinya semuanyaa ingin yang terbaik untuk anaknya,meskipun dengan cara dan tanggapan yang berbeda beda.

Ternyata, virus tidak pandang usia. Beberapa dari kami akhirnya tumbang juga. Setelah berusaha semaksimal mungkin untuk bertahan sebagai tiang penyangga. Mengurus yang  tumbang tanpa mengesampingkan yang masih kuat ikut kegiatan. Semuanya harus tetap berjalan. 

Kami saling. Saling membantu dalam menutupi kekurangan. Yang belum bisa, segera berkabar agar yang bisa segera maju kedepan. Yang selalu bisa semangat stay dan saling memaklumi dengan segenap keikhlasan. Yang digantikan banyak berterimakasih dan langsung kembali ke posisi saat keadaan sudah memungkinkan. Bukan memanfaatkan kesempatan. 

Bangga menjadi bagian didalamnya. Indahnya berkeringat didalam lingkungan kebaikan. 

Syafaakunnallah syifaan aajilan santriwati al adzkar.. 

Nanti abis libur pekanan, Semangat lagi yaaa ❤️



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Guru

Karantina Kelas 9