Standar Kepuasan
"Ustadzah puas banget abis buang es punya kita.. " kata salahsatu dari mereka sambil tertawa
Kamis ini memang sedikit berbeda. Seperti biasa Anak-anak dianjurkan shaum, dibolehkan keluar sore, tapi tidak untuk beli es dan makanan yang tidak sehat. Ditegaskan juga sama Ms Ela setelah jamaah ashar sore.
Mungkin beberapa hanya berfikir, "ohh, paling gabakalan diapa²in." "itumah ngancem doang." "Itumah biar gaada yang batuk, gitu doang."
Ustadz Abdur datang, sembari memperhatikan anak-anak yang keluar.
"Sudah diingatkan ya ms untuk tidak jajan es..?" tanya beliau. "nanti kalau ada yang jajan es, langsung dibuang aja ke tong sampah ya. Apalagi minuman murah yang biasa pake plastik itu yang 2000-an" lanjutnya.
"Kalau Jus stadz..?"
"kalau jus boleh."
"es kelapa..?"
"gaboleh. Kita gatau air nya asli apa nggak. Mateng apa nggak"
Semua merk minuman ditanyakan kepada sang ketua pengasuhan tersebut. Agar nantinya saat ada protes atau apapun, tidak ada miskomunikasi.
Anak-anak keluar. Sesekali Musyrifah memberhentikan mereka yang penampilannya tak layak untuk seorang santri keluar dari area pesantren. Kaos kaki pendek, kerudung kecil, baju pendek. Lalu Menyuruhnya ganti dengan yang lebih pantas.
Sampai pada akhirnya, mereka kembali ke pesantren dengan menenteng jajanan.
"apa itu..?"
"tea jus ustadzah, hehe."
Brak. 1 cup teajus dingin masuk ke tempat sampah.
"sini periksa dulu." setiap ustadzah yang standbye langsung memeriksa jajanan yang sudah dibeli santri.
Brak. Brak. Brak.
Beberapa minuman dingin yang sedari awal dilarang dilempar ke tempat sampah. Yang cemberut ada. Yang marah ada. Yang pasrah, banyak.
"Jangan lah ustadzah, ini 5000-an loh."kata salahsatu santri yang tidak terima kalau minuman dinginnya harus masuk tong sampah.
" yaudah, gapapa dibuang tapi ustadzah ganti uang aku 5000 yaa.. " tambahnya.
Lah lah lah, siapa yang salah ko ustadzah harus rugi. Ada ada aja anakanak.
" Nggak ustadzah, ini jus." Kata santri yang beruntung karena yang dibeli jus, bukan boba, nutrisari atau teajus. Sambil diangkat angkatnya.
Seperempat tempat sampah sudah terisi dengan minuman raziaan. Santri masih berdatangan, beberapa jajan minuman dingin kurang sehat.
Brak. Brak. Brak.
Santri yang baru sampai gerbang melongo kaget melihat minuman temannya dibuang ditempat sampah. Mungkin difikifan mereka, Ternyataaa Bukan sekedar nakut²in.
Beberapa terlihat santai, beberapa lainnya langsung panik karena tau yang ia beli berpotensi dibuang juga.
"sini sini dulu. Gaboleh diumpetin."
"Kan udah dibilangin, gaboleh beli es."
Dari setiap minuman yang dibuang, ditengah kondisi menuju buka puasa. Tak aada sedikitpun rasa puas atau merasa menang karena berhasil merampas makanan mereka. Sedikitpun tak ada.
Yang ada hanya suara suara hati yang sulit disampaikan, tapi sangat bergetar keras dalam diri.
'ini buat kebaikan kalian loh. Kalau kalian sakit, kalian juga yang rugi.'
Dan memang, kebanyakan mereka tak bisa memahami dengan sempurna maksud dari setiap tindakan.
"Puas banget ustadzah udah buangin minuman kita."
Tapi tak apa. Tak semua mesti sesuai dengan yang di ekspektasikan. Dan kekecewaan itu memang wajar saja.
Sehat sehat yaaa sholihah ❤️
Komentar
Posting Komentar