Protes

"Ustadzah, ustadzah yang kemarin laporin aku waktu ga turun shubuh ya..?"

Tanya seorang anak kelas 10 malam tadi.

"iyaa, beberapa hari yang lalu rasanya." jawabku.

"Aku ga turun karena bocor, baru pertama haid ustadzah." bela nya.

"Kan dari awal udah dibilang, gaada alasan itu. Itu bisa diselesaikan dari sebelum shubuh. Tapi kalau keukeuh, tinggal disampaikan saja sama Musyrifah yang nahkim."

"Pas tahkim, aku lupa gaturun. Jadi tetep dapet poin." 

"lah kenapa ga turun..? " 

Dia keukeuh dengan pendiriannya gamau dapet poin, aku..? Keukeuh juga cari cari celah yang buat dia faham. 

"Yaudah kalau emang ngerasa ga salah, tinggal bilang ketua pengasuhan aja." 

"Udah ustadzah, tapi Udah kerekap katanya." 

"Terus apa maunya sekarang..?" tanyaku. 

"Harusnya waktu ustadzah liat, konfirmasi dulu ke aku. Tanya dulu. Aku bener ngelanggar atau nggak. Jangan asal nulis nama." 

Waduhh,disemprot. Aku tertawa, dia tetap dengan wajah sinis dan songongnya. Aku ajak dia duduk, Sambil menyusun kata apa yang sebaiknya aku sampaikan agar dia faham dan mau mengakui kesalahannya. 

"Pertama, Musyrifah itu udah kewajibannya buat laporin pelanggaran yang dilihatnya. Benar atau tidak, ada alasan atau tidak itu bisa di selesaikan saat tahkim. Jadi nanya pelanggar itu buang² waktu, apalagi kalau yang ngelanggarnya banyak. Itu posisinya mau tahfizh juga kan. Mana sempet."

Dia tarik nafas, sambil berfikir entah introspeksi atau sedang mencari pembelaan. 

"Kedua, Kalau memang sedang berhalangan untuk ikut kegiatan izin aja sampaikan."

"Aku udah izin ustadzah, ke temenku minta tolong bilangin" 

"sudah sesuai etika perizinannya..?" selak ku. 

Dia terdiam. "di kamar kan ada ALSO, izin ke Mereka dengan ketentuan dan etika yang baik. Jangan cari perlindungan titip izin ke teman."

Dia masih terdiam. 

"Ketiga, Kalau memang jelas salah tak usah cari pembelaan sana sini. Coba renungi bener gak kesalahan dan kelalaian pribadi, terus introspeksi, perbaiki, besoknya jangan diulangi. Jangan malah bela diri diatas pelanggaran yang lain. Waktu Tahkim Gaturun, itu udah pelanggaran juga. Double poin harusnya. Iya kan..?"

"Iya ustadzah, tapi kan.." 

"tapi apa lagi..?"

"banyak loh yang lain juga ngelanggar tapi Ga ketauan. Jadi gadapet poin." tambahnya. 

Astagfirullah, aku tarik nafas lagi. Bisa yaa kefikiran kesana. 

"Yaudah, kalau emang masih gaterima silahkan langsung ke pangasuhan aja yaa." 

"ihhh Ustadzah.." lirihnya. Dan aku faham. 

"masa ke ustadzah berani protes, kesana nggak. Oiyaa, terakhir jangan lupa adabnya yaa.. Masa protes sambil melotot² sambil sinis kaya gitu." dia tertunduk. 

Memang banyak sekali anak model seperti itu. Takut poin, tapi langganan ngelanggar. Diingetin malah balik nyolot. Yang ditakutkan mereka sebenarnya 'Gak pulang bulanan' kalau poinnya sudah sampai batas maksimal. 

Dan aku, bukan yang gemar cari kesalahan sebenarnya. Hanya saja mencoba menanamkan kalau memang mereka salah, mereka harus tau kalau itu salah. Seperti yang disampaikan Ustadz Hadi saat penguatan dan penegasan Tugas Musyrifah. 

حين سكت اهل الحق عن الباطل توهم اهل الباطل أنهم على حق. - علي بن ابي طالب

"Ketika ahlul haq diam terhadap kebatilan, maka ahlul batil akan mengira mereka berada dalam kebenaran”

Suatu saat kalian akan faham, insyaAllah. 

Pamulang, 23 Oktober 2022 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Guru

Karantina Kelas 9