Polusi Jakarta

Jum'at 18 Agustus 2023 setelah mengajar kelas 7.4 aku berangkat menjemput Dewi ke Mampang, Jaksel. Sebelumnya kita memang sudah janjian untuk hari ini. Sebenarnya Dewi keukeuh mau naik Busway sajaa, tapi aku yang sudah lama tidak menikmati perjalanan panjang dengan motor memaksanya agar dia dijemput saja. Ditambah, ternyata jam 11 busway sudah libur kalau hari Jum'at.

Ditengah perjalanan aku mampir ke indomaret untuk membeli minum dan mengabari dewi sekalian menyalakan Google maps, maklum meskipun sudah beberapa kali kesana tetap saja lupa lagi jalurnya, karena jalan yang selalu berbeda setiap berkunjung. Hehe. 

Hari itu, matahari terasa sangat terik. Tanpa sunscreen dan kaos tangan ternyata membuat kulit terasa terbakar, tapi tak apa. It's A Journey.

Perjalanan jauh dengan motor adalah ajang untuk berfikir, Melamun, Nostalgia, mengarang ceritaa dan bersyukur tentunya. Ini yang aku suka. Apalagi setelah tragedi perlombaan 17 Agustus Kemarin yang cukup ruwet dan mumet.

Tiga perempat jam kuhabiskan diperjalanan bersama simerah, sambil ditemani mbak Googlemaps yang setia menunjukan jalan. Sengaja tidak kunyalakan Googlemaps dari awal perjalanan, agar aku bisa mendengarkan petuah-petuah dari Habib Ja'far dan Fatur yang sangat menggugah di SAF Original. Lagian aku juga masih hafal perjalanan menuju jakarta.

Setelah sampai titik tujuan, aku menelpon Dewi, karena memang meskipun sudah beberapa kali mampir, dalam beberapa kali itu pula dewi pindah pindah kosan. Hahahah. Dasar Perantau. 

Aku cas hp ku karena batre ya sudah low, ditambah ketika berangkat memang batrenya cuma 20%. Aku merebahkan tubuhku sejenak untuk perjalanan berikutnya Jaksel-Pamulang-Serpong, perjalanan panjang juga, bedanya kali berikutnya aku tidak sendiri. Kan memang tujuan ke Jakarta untuk Jemput Dewi dan mengantarnya ke Serpong.

Perjalanan selanjutnya kami habiskan dengan berbincang tentang banyak hal. Entahlah, satu orang ini selain sikapnya yang sangat santun jiwanya juga sangat kuat dan hebat. Sehingga ketika ia melangkahkan kaki dari Al Adzkar, banyak sekali cerita hebat yang terlewatkan. Dan perjalanan itu menjadi momen kami untuk bercerita, bertukar fikiran dan pandangan serta sama-sama mengambil hikmah dari jalan hidup yang mulai berbeda. Bedanya cuma sedikit sebenarnya, dewi ngajar SD aku SLTP. Hehe. 

Sebelum menuju Serpong, kami sempatkan dulu untuk makan Bakso PWD Pamulang dan melanjutkan lagi perjalanan ke rumah kakanya Dewi. 

Didalam perjalanan itu, aku  mulai merasa cape dengan kondisi jalanan sampai batuk berkali-kali. Apalagi jalanan Puspitek yang gersang dan berdebu membuat pengendara kurang nyaman saat lewat sana, tapi tetap memaksa. Akhirnya, selain bercerita hidup masing-masing kami juga menyinggung tentang polusi yang saat ini sedang viral. Para Influencer mulai menyuarakan kegelisahannya, ada yang curhat kalau batuknya ga sembuh-sembuh, ada yang cerita kalau sesek nafas, ada juga yang mempertanyakan pemerintah yang sepertinya belum mengambil tindakan apa-apa tentang kasus ini dan membanding-bandingkan dengan negara lain. 

Dalam mengkritisi, rakyat Indonesia memang paling top dan jago. Termasuk aku dan Dewi. Sampai pada titik, sadar diri karena kita juga lebih memilih kendaraan pribadi daripada kendaraan umum yang secara logika lebih safe dan jelas-jelas mengurangi polusi. Yaa, dibanding harus berdesak-desakan di angkot atau naik busway, rasanyaa mendingan motor an deh. 

Kami menertawakan diri sendiri. Hehe, Maafin aku ya Pa Jokowi. Itulah yaa, manusia. 

Lekas Membaik, Jakarta. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Guru

Karantina Kelas 9