Arzaqina
"Bersyandaaaaaaa.... Ayoooo yang masihhh di kamar mandiiii.." Suara itu terdengar dari arah Kamar Mandi dengan nada meledek. Padahal waktu menunjukan pukul 22.35, baru lima menit yang lalu aku keliling untuk mengamankan anak-anak. Padahal.
Aku segera keluar kamar menuju kamar mandi, menghampiri sumber suara.
Aku berdiri di depan. Sang pemilik suara belum sadar akan keberadaanku. Sampai akhirnya...
Arzaqina namanya. Seminggu yang lalu dijadwal penjengukan, dia ketauan keluar tanpa izin setelah sebelumnya mencoba izin bersama teman-teman nya kepadaku. Sesuai peraturan, jam 11.30 sudah tidak diperbolehkan lagi keluar. Meskipun bersama orangtua dan berakhir ketauan oleh Ka Ica di Alfamart.
"Kenapa Masih disini..? Jam berapa ini..?" Tanyaku.
Dia Kaget dengan Keberadaan ku. Tapi masih dengan ciri khas nya, senyum malu-malu.
"Tadii ngomong apaa Arzaqina..?"
"Nggak Ustadzah.."
"Ngomong apaa.. Ustadzah denger ko."
"Ituuu, aku becanda aja ke temen-temen ustadzah..." jawabnya sambil senyum.
"Becanda atau Ngeledek Musyrifah..??" Selidik ku.
Dia hanya senyum-senyum.
"Kamu sebel yaa sama Musyrifah..?"
"Nggak ko ustadzah, beneran."
"Teruss kenapaa, kayanya akhir-akhir ini berulah mulu." tanyaku lagi. Dia terdiam. Akupun tak berani melanjutkan. Terdiam cukup lama. Banyak sekali rasanyaa yang ingin kusampaikan padanya.
Tentang kenapa kita selalu menegur ya saat ia melanggar aturan, tentang kenapa kita selalu menyuruh tidur tepat waktu, tentang kenapa kita melarangnya berbahasa kasar, tentang kenapa kita menghukumnya saat ia terlambat ikut berjamaah... Dan masih banyak lagi.
Tapi bibirku kelu. Sambil mencoba kuat menahan airmata yang akan jatuh. Dia menyadarinya.
"ihhh, Maaf yaaa ustadzah.." pintanya.
"Iyaaa, ke kamar yaa. Istirahat. Udah malem." perintahku.
Aku segera bergegas ke kamar. Meredakan marah dan sesak yang selalu hadir disaat saat seperti ini. Setelah lebih tenang, aku kembali ke kamar mandi. Karena memang masih ada anak-anak yang didalam kamar mandi.
"Keberkahan menuntut ilmu ituu, gak hanya didapat dari Kesungguhan belajar kita aja. Tapi bisa jadi, karena ibadah kita yang maksimal, patuhnya kita sama aturan pesantren dan kebaikan-kebaikan lainnya." Mereka berempat kembali ke kamar.
Begitupun aku.
'Maafkan aku yaa anak-anak Sholihah. Kalau selama kita saling kenal mungkin ada teguran yang kurang mengenakkan. Kalau selama kita saling mengenal aku belum maksimal membimbing kalian, sukses terus semuanyaaa.'
Komentar
Posting Komentar