Minta maaf
"Ustadzah, maaf yaaa. Aku mewakili anak anak kamar minta maaf. Aku yang salah gabisa ngondisiin anak kamarku."
Ghadija. Salahsatu Musyrifah kamar anak kelas 10. Akhir akhir ini kelas 10 memang selalu menjadi perhatian. Karena adab nya yang kurang, selalu berisik diatasi jam 10 malam, tidak turun ketika belajar malam.
Termasuk pada hari ini, terulang lagi. Ketika aku keliling untuk memastikan anak-anak istirahat, kamar kelas 10 terdengar sangat berisik.
Ku ketok pintunya sembari lewat, hening sebentar... Berisik lagi. Ketok lagi.. Hening, lalu berisik lagi. Kubuka pintunya, kubiarkan mereka sadar sendiri untuk diam dan bergegas ke kasur nya masing-masing.
Padahal beberapa hari yang lalu baru saja kunasehati anak anak yang selalu berisik diatasi jam 10 malam.
"Harus berapa kali balikan Ustadzah ngetok kamar biar kalian ga berisik..?" Tanyaku.
Panjang kunasihati anak-anak kelas 10 itu.
"Mecca, tolong matiin lampunya ya." Perintahku,
Aku segera bergegas meninggalkan kamar menuju tangga. Dada ini rasanya sangat sesak.
Satu sisi kesal dengan anak-anak yang selalu berulah. Disisi lain, sesal dan khawatir.
"Apakah terlalu berlebihan yaa..?"
Aku melanjutkan hafalanku di tangga. Tiba-tiba Ghadija datang meminta maaf. Tanpa berpantang cerita Segera kusuruh Ghadija kembali ke kamar.
Bukan karena tidak memaafkan atau tidak mau berlama-lama dengannya. Tapi aku tak kuasa dengan airmata yang terbendung di ujung ini. Tidak mungkin kan kalau aku menangis tersedu didepan anak anak.
Benar saja, ketika Ghadija pergi tak sadar airmata ini tumpah.
'Nak, maaf yaa jika perkataan Ustadzah tadi ada yang berlebihan dan menyakiti kalian.
Komentar
Posting Komentar