Harap

"Bukannya harap kalian tuh lagi banyak yaa sekarang..?" Tanyaku.

Mereka tak menjawab, mulutnya diam sambil merapikan barang-barangnya lalu bergegas meninggalkan UKS. Salaseorang dari mereka menyodorkan tangan untuk bersalaman.

Ku abaikan.

###  ###  ###

Senin di pertengahan Februari tahun ini, seperti biasa diawali dengan Tahfizh pagi.

Karena anak-anak masih Tryout tidak ada yang setoran, dan aku bisa menyelesaikan target tilawahku waktu itu juga.

Jadwal KBM kelas 8.3 masih di jam 10.30, tapi tetap saja aku harus hadir Ma'tduran pagi bersama guru-guru dan langsung piket kantor pengasuhan.

Selama KBM kujalani dengan enjoy dan menyenangkan, selain karena pembahasannya yang tidak terlalu sulit (If/Lookup Mid-Left-Rigt), anak-anaknya pun hadir di pelajaran dengan penuh semangat dan rasa penasaran.

I Like It.

### 

Piket pengasuhan berlanjut sampai malam. 

Bel usainya belajar malam sudah berbunyi. Sebagian anak-anak langsung naik ke asrama untuk persiapan tidur. Namun sebagian lain, masih harus digebah satu satu.

"Ayo, waktu menunjukan pukul setengah 10 lebih 5 menit, yang masih di aula, di lapangan, depan kelas.. Silahkan segera rapikan barang-barangnya dan istirahat di asrama masing-masing." kataku melalui pengeras suara.

Terpantau, kelas 11 dan kelas 12 masih di depan kelas masing-masing.

Aku kasih kode ka Sindi agar ia menegur mereka. Ka sindi menghampiri, terlihat mereka memohon² agar diberikan tambahan waktu karena besok ada penilaian harian, sepertinya.

Namun, rengekan mereka tak membuatku hasil, satu demi satu mulai naik ke lantai dua dan tiga.

Kelas 12 masih ada yang berkutik dengan tugasnya kaligrafi kelompoknya. Belom terlihat tanda-tanda beranjak meninggalkan kelas.

21.58 Susi segera menghampiri mereka. Entah apa yang ia sampaikan, mereka segera naik.

"Bukannya udah disampein yaa,kalo ngerjainnya sampe malem banget bakalan dikurangi nilainya sama ms Ros."

"Tau tuh mereka, susah banget."

22.05 aku naik duluan ke asrama.  Kusisiri lorong demi lorong asrama sambil menyuruh mereka untuk tidak berisik. Putaran pertama biasanya hanya sekedar "Ssssstttttttttttttttttttt" saja.

Setelah semua lorong lantai 2 & 3 terjamah, aku melihat di UKS masih ada orang daan berisik.

Aku balik arah sekalian mengamankan anak-anak yang masih bersuara di dalam kamar.

"Kalau masih mau belajar, jangan sambil ngobrol. Masing-masing aja belajarnya." kataku kalau terlihat ada yang masih belajar sambil ngobrol dikamar.

Ketika sampai di pintu UKS, aku terdiam. Memperhatikan mereka dari pintu. Mereka langsung canggung, kudapati mereka sedang badminton 2 orang, membuat tugas kaligrafi 4 orang dan tidak ngapa-ngapain 1 orang.

Sebenarnya aku menahan diri untuk tidak bicara apa-apa. Selain meminimalisir tengkar, aku juga menahan agar tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak semestinya diucapkan.

"Ya Allah, aku meminta kalimat yang haq, tatkala aku dilanda kondisi marah maupun kondisi ridha." harap dan doaku dalam hati.

3 orang selain yang mengerjakan tugas praktik kaligrafi keluar dari UKS dan kembali ke kamarnya. Sisanya masih di UKS. Padahal sebelumnya sudah diingatkan saat masih dibawah untuk segera istirahat diatas.

"Kalian udah tau belum kalau ngerjain jam segini bakal mengurangi nilai kalian?" kusampaikan ulang pesan Ms Ros terkait penilaian kaligrafi ini.

Mereka hanya diam tak menjawab apa-apa, aku diam sejenak. Aku mencoba merangkai kata yang akan kukatakan agar tidak ada do'a kurang baik yang terlontar, meskipun cukup kesal.

Aku ingat betul bagaimana orangtua-orangtua hebat yang pandai menjaga lisannya saat berhadapan dengan kebandelan anaknya.

Pun dengan kisah ibunda dari Imam besar masjidil haram yang mendoakan kebaikan atas kenakalan anaknya.

"Idzhabb, Ja’alaka imaaman lilharamain." Kata sang ibu. Dan benar terkabul.

Aku istighfar sambil menatap wajah mereka satu persatu.

"Kalian kan udah kelas 12, bukannya harap kalian lagi banyak ya sekarang ? Bukannya do'a kalian lagi bertumpuk..?" tanyaku.

"Jangan kotori kerja keras kalian, mimpi² kalian dengan pelanggaran-pelanggaran kaya gini. Sayang.." tambahku.

"Jangan seenaknya yaa, kalian masih terikat aturan."

Mereka tak menjawab, mulutnya diam sambil merapikan barang-barangnya lalu bergegas meninggalkan UKS. 

Sebelum keluar, salaseorang dari mereka menyodorkan tangan untuk bersalaman.

Ku abaikan.

"Ighfirliiiiii, yaa Allah."

Aku kembali ke kamar, sungguh kejadian sederhana tadi membuat dadaku terasa sangat menyesakkan. 

Aku menyibukan diri (buka laptop isi gform pengambilan wisuda) agar lagi lagi tidak ada umpatan yang kurang baik, agar tidak ada lagi keburukan yang menyelimuti. Kuelus dadaku sambil istighfar berkali-kali.

"Ya allah, karuniakanlah kebaikan untuk mereka. Semoga harap mereka, doa² mereka, impian mereka Engkau permudah jalannya."


Pamulang, 19 Februari 2024



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Guru

Karantina Kelas 9